Mimpi Nge-kost
Diterima di sekolah baru, SMA, rasanya seperti memasuki dunia baru. Teman, sahabat, lingkungan dan hal-hal baru lain yang semakin hari semakin memberikan warna-warni tersendiri. Semenjak SMA duniaku memang mengalami banyak perubahan.
Kelas X adalah pertama kalinya aku merasakan nge-kost. Meskipun jarak rumah dan sekolah hanya berbeda kecamatan, tetapi entah dulu tiba-tiba aku berkeinginan untuk kost untuk merasakan dan mendapatkan pengalaman baru yang berbeda dengan masa SMP. Hari-hari awal Masa Orientasi Sekolah (MOS) di SMA aku mulai mencari kost di sekitar sekolah. Berkat bantuan dan info dari salah satu teman, aku pun mendatangi kost yang direkomendasikan temanku tadi. Namanya kost putri “Srikandhi”. Saat itu kebetulan masih ada kamar yang belum penuh. Setelah bertanya kepada pemilik kost dan disetujui untuk kost di sana, malam harinya pun aku langsung pindahan ke kost. Aku masih ingat dulu pertama kalinya datang dan tidur di kost, di kost sedang ada acara, jika tidak salah seperti “yasinan” seperti itu.
Beberapa hari pertama tinggal di kost aku masih tahap penyesuaian. Dulu yang biasanya tidur satu kamar sendiri, saat itu juga harus tidur bersama tiga anak yang saat itu masih anak baru, belum kenal dekat. Mandi yang biasanya di rumah bebas mau mandi kapan saja bisa, sedangkan di kost mandi pun harus antri bersama 19 anak lainnya. Di kostku saat itu diisi oleh 20 anak. Jadi, antrian mandi dilakukan per-kamar. Di depan kamar mandi ada antrian nomor yang jika mau antri harus memasang nomor itu terlebih dahulu.
Dulu kesepakatan pasang nomor antrian ada aturan dan kesepakatan. Kesepakatan yang masih kuingat adalah masing-masing boleh memasang mulai pukul 00.01 WIB. Namun, ada jatah mandi awal yang bisa dimiliki oleh masing-masing kamar. Di kostku ada 8 kamar dan 2 kamar mandi. Hari Senin adalah jatah mandi umum karena hari Senin belum efektif, sehingga antrian dimulai pada hari Selasa yaitu jatah kamar 1 dan 8, hari Rabu kamar 2 dan 7, hari Kamis kamar 3 dan 6, hari Jumat kamar 4 dan 5, sedangkan hari Sabtu adalah jatah umum seperti hari Senin, jadi “siapa cepat pasang nomor antrian, kamar itu yang dapat antrian awal”.
 Di kostku SMA menurutku adalah kost yang cukup unik dan memberikan banyak pelajaran budi pekerti. Bapak kost adalah mantan guru Bahasa Jawa dan kepala sekolah di salah satu SD di Kecamatan Talun tetapi sudah pensiun, sedangkan Ibu kost adalah mantan perawat. Masa awal kost aku masih belajar beradaptasi, mulai hal-hal kecil hingga hal-hal besar. Bapak kost yang super disiplin, tertib dan perfeksionis, serta Ibu yang multitalen, super rajin dan suka bersih, cantik, perempuan banget, dan masih berjiwa muda. Bapak kost seringnya berbahasa Jawa Krama halus ketika berbicara denganku dan teman-teman kost, tetapi terkadang berbahasa Indonesia.
Di kost ada peraturan yang dibuat oleh Bapak dan Ibu kost. Jika tidak salah ada sekitar 20-an poin. Ada beberapa aturan yang masih kuingat hingga sekarang. Pukul 14.00-16.00 WIB adalah waktu istirahat, sehingga suasana kos harus tenang dan pintu kost harus ditutup. Jika ketahuan bersuara keras atau membuat gaduh kost akan ditegur oleh Bapak kost. Namun, setelah pukul 16.00 WIB, pintu boleh dibuka dan suasana sudah boleh bebas. Pukul 20.00 WIB hingga malam adalah jam belajar, jadi setelah pukul itu suasana kost harus sudah tenang dan tidak ada gangguan suara apa pun.
Di kostku juga ada sistem presensi seperti di sekolah. Presensi dilakukan setiap habis maghrib hingga pukul 21.00-an. Ada papan tulis berwarna putih yang sudah disiapkan khusus presensi anak kost. Pemresensi adalah anak yang pada hari itu mendapat tugas piket. Biasanya satu hari ada dua-tiga orang yang piket. Jika ada teman yang pulang telat, maka anak tersebut harus meminta izin kepada ketua kost, lalu ketua kost menyampaikan perizinan tersebut kepada Bapak kost. Selain piket presensi, tugas piket lain yaitu menutup jendela pada malam hari, membuang sampah dan menyapu ruang belajar plus dapur.
Peraturan lainnya adalah mematikan lampu seteelah selesai menggunakannya, contohnya adalah kamar mandi dan kamar tidur. Setelah keluar dari kamar mandi, lampu harus dimatikan, tidak boleh tidak. Begitu juga kamar tidur, jika tidak ada anak yang berada di dalam kamar tidur, lampu juga harus dimatikan. Jika ketahuan lupa atau tidak mematikan lampu, maka akan mendapat teguran dari Bapak kost.
Sebenarnya masih banyak peraturan lain yang ada di kostku, tetapi aku masih lupa. Mungkin bagi kamu yang tidak terbiasa dengan aturan-aturan seperti yang ada di kostku, kamu bakalan tidak tahan. :D Tetapi memang seperti itu adanya. Aku menyadari dan merasakan impact positif dari kebiasaan aturan itu ketika kelas X semester II. Awalnya memang harus begini dan begitu, tetapi lama-lama aku pun mengerti bahwa itu adalah proses dan cara mendidik Bapak kost, dan aku menikmati proses itu.  Meskipun terlihat seperti kejam dan untolerir, tetapi beliau adalah seorang Bapak yang penuh kasih sayang. Bapak kost berusaha mendidik putri-putri kostnya untuk menjadi anak yang bertanggungjawab dan disiplin. Apalagi Bapak kost tidak suka anak yang banyak alasan. Sekali ketahuan salah, diupayakan anak tersebut bisa mengakui kesalahannya tanpa alasan satu pun. Memang seperti kurang ditolerir, tetapi itu cara beliau mendidik anak untuk memiliki jiwa besar dan berani untuk mengakui sebuah kesalahan yang sudah dilakukan.
Hampir sama dengan Bapak kost, Ibu kost adalah Ibu yang super rajin, suka bersih dan penuh cinta. Beliau selalu mengajarkan putri-putri kostnya untuk menjadi sebenar-benarnya perempuan. Perempuan yang rajin, bersih, rapi, telaten dan tanggungjawab. Contohnya, ketika setelah memasak, peralatannya ya harus dibersihkan dan dikembalikan ke tempat semula. Selain itu, juga diusahakan agar rajin merapikan kamar tidur. Terkadang, dulu ketika di salah satu kamar ada yang berantakan, Ibu kost lah yang merapikannya.
Setiap hari Ibu kost memang membersihkan dan menyapu kamarku dan teman-teman, jadi bagaimanapun keadaan kamar akan tetap ketahuan oleh Ibu kost. Meskipun sedikit cerewet, memang seperti itu lah cara Ibu untuk mendidikku dan teman-temanku. Jika pun anak-anak kost rajin seperti yang Ibu kost harapkan, Ibu juga tidak akan cerewet. Namun, semakin lama aku dan teman-temanku memahami Bapak dan Ibu, dan kami menjadi seperti keluarga sendiri. Ibaratnya, Bapak dan Ibu kost adalah orangtua kedua setelah orangtua kandungku dan teman-temanku. Hingga pada tahun-tahun terakhir sebelum lulus, aku dan teman-teman kost semakin tahu dan memahami kebiasaan Bapak dan Ibu yang bertipe seperti itu, begitu juga beliau berdua terhadapku dan teman-temanku, dan kami seperti keluarga. Sebenarnya masih banyak cerita yang masih terkenang dan memberi pelajaran hidup yang berimpact positif hingga sekarang, tetapi cukup sampai di sini dulu saja. ;)

Yogyakarta, 21 Mei 2013

0 Komentar